Tuesday, June 23, 2015

Resensi: “Metode Penelitian bagi Remaja” (Research Methodology for Teenagers) Forum, Maret-April 1995. Book review of Andi Hakim Nasoetion, Berpikir dan Meneliti secara Ilmiah bagi Remaja (Guidance to Think and Academic Research for Teenagers), Jakarta: Grasindo, 1992



Kolom: Diplomasi RI di PBB: Catatan Sejarah yang Belum Terjamah” (RI DiplomaticAction in United Nations Organization: A History Note that Had Not Been Touched), Republika, January 20th, 1995


Kolom: Pelajaran dari Sampang


Resensi: Asal-usul Konflik Etnis Madura-Dayak



REPUBLIKA - Minggu, 30 Desember 2001     

Asal-usul Konflik Etnis Madura-Dayak

Inilah disertasi yang paling sering disebut orang ketika membicarakan konflik etnis Madura dan Dayak di Kalimantan Barat (Kalbar). Sejatinya, penelitian almarhum Hendro bukan membahas konflik etnis, melainkan migrasi swakarsa orang Madura ke Kalbar. Namun selain memaparkan latar belakang, faktor-faktor pendorong dan penarik migrasi, ia juga meneliti hubungan dan pandangan orang Madura terhadap suku lainnya di Kalbar.

Buku yang diterbitkan oleh ISAI (Isntitut Studi Arus Informasi) ini menjelaskan hubungan dan pandangan orang Madura terhadap orang Bugis, Melayu, Cina, dan Dayak. Tak alpa pula ia menelaah penyebab konflik antara etnis Madura dan Dayak yang berlangsung sebelum tahun 1984 --saat disertasi ini ditulis. Pada bagian inilah ia menyumbangkan pengetahuan yang sangat berharga.

Hendro menjaring informasi lewat pengumpulan sumber primer dan sekunder, serta menyebar 400 kuesioner tipe pilihan kepada para migran asal Madura, ditambah wawancara terhadap puluhan informan kunci. Ia menggunakan konsep yang kini marak dibicarakan orang, yakni prasangka, stereotipe, etnosentrisme, konflik, konsiliasi, asimilasi dan permusuhan terbuka. Kalaupun ada kelemahan dalam disertasi ini adalah: ia tidak menggunakan sumber informasi sezaman pada periode yang ia teliti, semisal arsip, koran, dan majalah.

Berdasarkan data dan pengamatan Hendro, migrasi swakarsa orang Madura ke Kalbar telah berlangsung lama, tepatnya sejak 1902. Kebanyakan mereka berasal dari dua kabupaten di bagian barat pulau garam itu, yakni Bangkalan dan Sampang. Mengapa? Pada dua kabupaten inilah penduduknya paling banyak (hlm. 50).

Penduduk Madura memang padat. Seperti diurai dalam disertasi Huub de Jonge (1989: 21), sejak 1815 sampai 1940 penduduk Madura malah lebih padat dari pulau Jawa. Artinya sampai 1940 Madura adalah pulau terpadat penduduknya di Indonesia. Kepadatan penduduk yang tinggi ini berakibat pada sempitnya pemilikan tanah: rata-rata 0,3 ha per orang (hlm. 57). Faktor pendorong migrasi lainnya adalah tanah di Madura tergolong gersang.

Kepadatan penduduk, tanah gersang, keberanian dan kebiasaan bermigrasi, ditambah satu pendukung berlangsungnya migrasi yang juga penting, yakni tersedianya armada kapal layar Madura yang mampu menjangkau wilayah jauh, sampai ke Semenanjung Malaya.

Adapun Kalbar menjadi daerah tujuan migrasi lantaran kepadatan penduduknya rendah. Pada 1980 hanya 17 jiwa per km persegi. Kalbar jelas membutuhkan pekerja untuk mengolah kekayaan alam dan membangun infra struktur perekonomiannya. Dan kebutuhan ini, terutama pekerja kasar, diisi orang Madura.

Para juragan kapal yang sering bolak-balik ke Kalbarlah yang mula-mula membawa mereka ke sana. Bila calon migran tidak punya ongkos, juragan kapal bersedia menanggungnya lebih dahulu, dengan perjanjian akan dilunasi setelah mereka bekerja di Kalbar. Para migran ini dipikat lewat "janji surga" betapa gampangnya mencari kekayaan di tanah seberang. Pemeo yang kondang saat itu ialah, "Sejengkal memotong akar pinang, mendapat uang 50 ketip."

Ternyata mulut manis juragan kapal itu 'berbisa.' Sesampainya di Kalbar para migran tersebut 'dijual' layaknya perbudakan terselubung! Zaman penuh kepedihan dan penderitaan ini -- yang sangat jarang diceritakan kepada anak cucunya -- disebut 'Periode Perintisan' (1902-1942). Setelah itu disambung "Periode Surut" (1942-1950) lantaran masuknya Jepang dan meletusnya revolusi kemerdekaan.

Setelah bertahun-tahun membanting tulang akhirnya para migran itu tiba pada 'Periode Keberhasilan' (1950-1980). Pada masa ini mereka hidup layak. Mereka memiliki rumah dan kebun, bahkan menguasai sektor-sektor ekonomi informal tertentu, semisal penarik becak, penambang sampan, dan pekerja jalan darat (hlm. 84).

Apa yang membuat mereka berhasil? Hendro melihat sejumlah faktor, antara lain, pertama, mereka memiliki etos kerja dan jiwa wirausaha yang kuat sehingga sanggup bekerja keras, menderita, dan hidup hemat. Etos kerja ini didorong rasa malu (todus) yang tercermin dalam pepatah Ango'an potea tolang, e tebang pote mata (lebih baik putih tulang, daripada putih mata). Maknanya adalah lebih baik mati daripada gagal dalam kehidupan di rantau (hlm. 81).

Kedua, solidaritas sosial mereka sangat tinggi. Banyak migran Madura ke Kalbar tanpa membawa modal usaha sepeser pun. Mereka yakin, keluarga atau teman-temannya di rantau akan membantu. Kombinasi solidaritas dan kerja keras itu membuat mereka menguasai sektor-sektor perdagangan tertentu, sehingga orang-orang non Madura yang lebih dulu bergerak di bidang itu terdesak, bahkan terlempar keluar.

Belakangan, soal ini menjadi salah satu faktor penyebab meletusnya konflik etnis Madura melawan Melayu di Sambas, Kalbar. Pasalnya, migran Madura acap merebut kesempatan kerja dan pemilikan barang melalui kekerasan atau intimidasi --tidak lagi melalui jalan yang sah. (Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie, "Konflik Etnis di Ambon dan Sambas: Suatu Tinjauan Sosiologis", Antropologi Indonesia, Th XXIII, No. 58, 1999, hlm.41)

Lantas, faktor apa saja yang menimbulkan konflik? Hendro mencatat, pertama, sifat dan kelakuan dari 'tanah air' (rasa kesukuan atau ethnic urbanism) di Madura dibawa serta bermigrasi. Adat carok dan solidaritas kuat -meski acap membabi buta-- mereka bawa ke Kalbar. Akibatnya pertengkaran antar individu segera menjelma menjadi pertengkaran antar kelompok. Perkelahian antar kelompok kontan berkobar menjadi perang suku.

Kedua, pola pemukiman reng Madure kebanyakan pola kelompok, bukan pola sisipan. Ini membuat proses asimilasi dengan warga setempat terhalang.

Ketiga, tingkat pendidikan para migran sangat rendah. Otomatis mereka sulit mengunyah-nguyah informasi, beradaptasi, dan hanya mampu menguasai sektor formal. Dari 400 responden penelitian Hendro, 79 persen di antaranya tidak sekolah/buta huruf dan 10 persen lagi tidak tamat SD.

Hubungan etnis Madura-Dayak kurang harmonis antara lain karena faktor-faktor tersebut di atas. Sifat keras orang Madura, juga terdapat pada orang Dayak. Tingkat pendidikan dan posisi ekonomi kedua suku ini hampir sejajar: sama-sama rendah dan mengisi sektor informal. Sementara agama dan adat mereka berbeda. Di sisi lain hubungan etnis Madura-Bugis di Kalbar rukun lantaran faktor kesamaan agama.

Rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia pada kedua suku itu menambah kekurangharmonisan. Orang Madura menggunakan bahasa Indonesia dialek Madura yang kurang sempurna. Sedangkan orang Dayak berbahasa Indonesia aksen Dayak yang juga kurang sempurna. Intonasi meledak-ledak sebagai pencerminan dari sifat etnis Madura yang keras, mudah menimbulkan salah paham.

Toh, kekurangharmonisan ini tidak berarti kedua suku itu tidak melakukan kontak sosial. Hubungan sosial mereka diwarnai sikap prasangka dan menjaga jarak. Yang menggembirakan bahwa di beberapa kampung, seperti di Sungai Ambawang dan Marga Mulia, terjadi perkawinan antara orang Madura dan Dayak. Hendro berharap, seandainya perkawinan macam ini makin banyak, lambat laun kekurangharmonisan dalam pergaulan sosial mereka akan berkurang (hlm. 140).

Ternyata harapan mulia penulis buku ini sekarang tinggal kenangan belaka. Setelah disertasi ini ditulis, konflik Madura-Dayak malah memuncak dan berlarut-larut hingga kini. Betapapun demikian, buku ini menjadi penting lantaran mampu menganalisis faktor-faktor penyebab konflik dan membuka jalan untuk rekonsiliasi.

Edi Sudarjat, Peneliti pada Centre for Indonesian Regional and Urban Studies (CIRUS) Jakarta

Saturday, June 20, 2015

Sayangnya, Presiden PKS yang Baru pun Terkesan Cinta Dunia

http://politik.rmol.co/read/2013/02/02/96724/Sayangnya,-Presiden-PKS-yang-Baru-pun-Terkesan-Cinta-Dunia-
Sayangnya, Presiden PKS yang Baru pun Terkesan Cinta Dunia
Sabtu, 02 Februari 2013 , 12:56:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe



RMOL. Banyak pihak menyayangkan respons PKS terhadap penangkapan Luthfi Hasan Ishaaq oleh KPK. Dan, banyak juga menyesalkan pilihan Majelis Syuro PKS yang memilih Anis Matta sebagai presiden baru.
Seperti disampaikan peneliti gerakan politik Islam, Edi Sudarjat, saat diskusi Prahara Karena Sapi di Cikini, Jakarta, Sabtu (2/2)
"Kenapa tidak kader yang lain seperti Untung (Untung Wahono), yang kemana-mana naik bis dan tidak pernah disebut punya kasus," ungkap Edi
Menurut Edi, Anis Mata bukan sosok aman karena didera dugaan korupsi, tidak jauh beda dengan pendahulunya yang kini ditahan KPK. Memang, Anis sering dikaitkan dengan isu korupsi dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah.

"Ditambah juga saat pidato dia kemarin pakai jam rolex,
 hubbu dunya (cinta dunia) sekali kan itu, nggga sesuai dengan nafas PKS," tegas Edi dengan nada canda.

Edi berharap PKS bisa mencontoh apa yang pernah diperlihatkan oleh partai Islam zaman Orde Lama (Masyumi) yang memiliki integritas pribadi yang sederhana.

"Kader masyumi tidak ada yang suka kemewahan, mereka berhasil membuat partai Islam berjaya di masanya," ujar Edi.
 [ald]




Analisis Isi Pemberitaan Partai Politik di Dua Televisi Nasional” [Content Analysis of Party Newsreports at Two National Television], October 2012.

Laporan lengkap riset ini dapat diminta melalui blog ini.












Monday, June 15, 2015

Pengelabuan dalam Survey Politik Politik di Indonesia” [Cheating on Indonesian Political Survey], Jurnal Nasional, Kamis, 24 Juli 2008.










Pengelabuan dalam Survei Politik di Indonesia

Oleh Edi Sudarjat dan Palguno

Benjamin Disraeli, negarawan asal Inggris pernah mengingatkan kita bahwa terdapat tiga jenis kebohongan di dunia ini: bohong biasa, bohong besar dan statistik.

Maraknya penggunaan survei dalam analisis politik di Indonesia belakangan ini, selain membawa manfaat besar, juga melahirkan pengelabuan. Teknik pengelabuan yang lazim digunakan adalah pertama, melakukan analisis tidak sesuai dengan satuan penarikan contoh. 
Kedua, akibat analisis yang tidak sesuai dengan satuan penarikan contoh itu, maka sampling error yang muncul harusnya lebih besar daripada survei nasional, tapi prosentase sampling error ini tidak dicantumkan. 
Ketiga, tabulasi silang dalam suatu laporan survei hanya menampilkan angka prosentase, tanpa menampilkan jumlah responden (n) untuk tiap kategori. Dari ketiga kesalahan itu, maka orang menafsirkan hasil tabulasi pada tingkat provinsi sama dengan dengan tingkat nasional. Padahal jumlah responden tingkat nasional jauh lebih tinggi.
*  *  *
Contoh pengelabuan ini dapat dilihat pada publikasi PT Lingkaran Survei Indonesia menyelenggarakan Survei Nasional Menjelang 3 Tahun SBY – JK pada 9-14 September 2007. Keterangan metodologi suvei ini sbb: (a) Metodologi multi-stage random sampling; (b) Responden berjumlah 1200; (c) Dilaksanakan 33 provinsi di seluruh Indonesia; (d) Sampling error  sekitar 2,9%.
Karakter demografi responden dalam survei tersebut dijelaskan pada tabel 1.



Tabel 1. Karakter Demografi Responden

Kategori
Sampel Lingkaran Survei Indonesia
n = 1200
Sensus BPS 2000
September 2007

SUKU BANGSA (Responden)
Jawa
41,3% (496)
 41,6%
Sunda
17,9% (215)
 15,4%
Madura
  2,9%   (35)
3,4%
Minangkabau
  0,0%     (0)
2,7%
Betawi
  0,0%     (0)
2,5%
Bugis
  0,0%     (0)
2,5%
Lainnya
37,9%
31,9%
           














Sumber: Analisis Survei Nasional Menjelang 3 Tahun SBY – JK, Oktober 2007 hlm. 25. http://www.lsi.co.id/publikasi.php?tipe=riset

Kemudian survei ini menjelaskan tingkat kepuasan responden terhadap kinerja pemerintah SBY-JK berdasarkan kategori suku dan  partai seperti dijelaskan pada Tabel 2 dan 3. Di sinilah pengelabuan terjadi. Dalam survei dengan satuan penarikan contoh setingkat nasional, analisisnya harus nasional. Tidak dapat dilakukan analisis spasial dengan kategori suku bangsa, partai dan provinsi, karena jumlah respondennya berbeda-beda. 
Responden suku Jawa 496,  suku Sunda 215, sementara suku Madura hanya 35; ketiganya tidak dapat dibandingkan. Menyimpulkan 20,6% suku Madura Sangat Puas/Cukup Puas; 61,8% Kurang Puas/Tidak Puas sama sekali dari 35 responden, tidak dapat disebut valid. Suku Madura berjumlah sekitar 10 juta jiwa, sedangkan sampel dari suku Madura hanya 35 orang! Mestinya dijelaskan bahwa dengan sampel 35 orang, maka simpangan survei ini sekitar 16,6%; suatu simpangan sangat besar dan menghasilkan kesimpulan yang tidak valid. 

Tabel 2. Distribusi Tingkat Kepuasan terhadap Pemerintah SBY-JK

 Kategori
Sangat puas/ Cukup Puas
Kurang puas/Tidak Puas Sama Sekali
Tidak tahu/ Tidak Jawab
Suku (%)
 Jawa
35,0%
57,0%
8,0%
 Sunda
18,4%
80,7%
0,9%
 Melayu
57,1%
35,7%
7,1%
 Madura
20,6%
61,8%
17,6%
 Batak
29,4%
70,6%
0,0%
Sumber: Analisis Survei Nasional Menjelang 3 Tahun SBY – JK, Oktober 2007 hlm. 8. http://www.lsi.co.id/publikasi.php?tipe=riset

Pengelabuan lainnya adalah menyimpulkan tingkat kepuasan terhadap pemerintah SBY-JK berdasarkan kategori partai seperti yang tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Distribusi Tingkat Kepuasan terhadap
Pemerintah SBY-JK Berdasarkan Partai

Kategori
Sangat puas/cukup puas
Kurang puas/Tidak Puas Sama Sekali
Tidak tahu / Tidak Jawab
Pilihan Partai Hari  Ini (%)
PPP
36,1%
59,0%
4,9%
Partai Demokrat
59,3%
38,2%
2,4%
PAN
25,0%
75,0%
0,0%
PKB
30,0%
57,5%
    12,5%
PKS
32,8%
65,7%
1,5%
PDIP
24,7%
72,6%
2,8%
Golkar
46,3%
47,5%
6,1%
Lainnya
30,1%
57,7%
    12,2%
Sumber: Analisis Survei Nasional Menjelang 3 Tahun SBY – JK, Oktober 2007 hlm. 10. http://www.lsi.co.id/publikasi.php?tipe=riset

Menyimpulkan bahwa 36,1% pemilih PPP Sangat Puas/Cukup Puas; 59,0% Kurang Puas/Tidak Puas sama sekali terhadap pemerintah SBY-J; dari survei Nasional dengan 1200 responden, tanpa diketahui jumlah responden dari PPP, adalah analisis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Begitu kesimpulan prosentase kepuasan dari Partai Demokrat, PAN, dan lainnya tidak dapat dilakukan tanpa kita ketahui jumlah sampelnya.
*   *   *
Adapun Lembaga Survei Indonesia melakukan survei nasional pada 25 September - 2 Oktober 2007, dengan keterangan metodologi sbb: (a) Metodologi multistage random sampling; (b) Sampel  1300 responden yang tersebar di 33 provinsi, yang diwawancarai tatap muka oleh pewawancara terlatih; (c) Jumlah responden ini proporsional, sesuai dengan jumlah penduduk di masing-masing provinsi; (d) Margin of error survei ini +/- 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.; (e) Karakter demografi responden dalam survei tersebut dijelaskan pada tabel 4.

Tabel 4. Karakter Demografi Responden

Kategori
Sampel Lembaga Survei Indonesia
N = 1300
Sensus BPS 2000
September- Oktober 2007

SUKU BANGSA (Responden)
DKI
4,0%    (52)
 3,5%
Jawa Barat
14,5%  (189)
17,4%
Jawa Tengah
12,9%   (168)
15,2%
Jawa Timur
13,7%  (178)
16,7 %
Bali
2,4%    (31)
 1,5%
Sumatra Selatan
3,2%    (42)
 3,2%
Kalimantan Barat
2,4%    (31)
 1,9%
Sulawesi Selatan
3,2%    (42)
 3,5%
Sulawesi Tenggara
0,8%    (10)
 0,9%
Maluku Utara
0,8%    (10)
 0,4%
           
















Sumber: Lembaga Survei Indonesia, Prospek Kepemimpinan Nasional Evaluasi Publik Tiga Tahun Presiden, Oktober 2007, http://www.lsi.or.id/riset/218/popularitas-sby-jk-menurun-menembus-batas-psikologis

            Dari survei dengan satuan penarikan contoh setingkat nasional ini, Lembaga Survei Indonesia kemudian melakukan analisis dengan spasial provinsi. Di sinilah pengelabuan terjadi. Dipaparkan dalam Tabel 5, bila pemilihan presiden dilakukan hari ini, di DKI SBY akan meraih 24% suara; di Jawa Barat 19%; Sulawesi Tenggara 42%; Maluku Utara 44%. Kesimpulan ini diambil berdasarkan sampel di DKI berjumlah 52 responden;  di Jawa Barat 189 responden; Sulawesi Tenggara 10 responden; dan Maluku Utara 10 responden (lihat Tabel 4). 
     Dengan  variasi jumlah responden seperti ini, sesungguhnya tidak dapat diambil kesimpulan berdasarkan satuan provinsi. Menyatakan SBY akan meraih pemilih 44% di Sulawesi Tenggara berdasarkan 10 responden, merupakan sebuah kesimpulan menyesatkan. Sebab, simpangannya sekitar 31%. 


Tabel 5. Presiden pilihan bila pemilihan diadakan hari ini di
sejumlah daerah (%)



SBY
Mega
JK
Sultan
Wiranto
Sutiyoso
Amin
Hidayat
DKI
24,0
15,0
1,0

5,0
3,0
9,0
6,5
Jabar
19,0
21,5
1,0
4,5
5,0
0,5
6,0
4,0
Jateng
26,0
23,0
2,0
8,0
3,0
1,0
6,5
3,0
Jatim
22,0
23,0
1,0
0,3
3,0

3,0

Bali
24,0
50,0
1,0
5,0
3,0
0,5
1,0
0,5
Sumatra Selatan
34,0
23,0
1,0
2,0
3,0
0,5
4,0
2,0
Kalimantan Barat
34,5
27,0
1,0
1,0
3,5

2,0
1,0
Sulawesi Selatan
40,0
4,0
28
1,0
1,5
0,1
2,0
1,0
Sulawesi Tenggara
42,0
7,0
16

10,0
1,0
3,0
2,0
Maluku Utara
44,0
6,0
3,0

11,0
1,0
6,0
2,0
Sumber: Prospek Kepemimpinan Nasional Evaluasi Publik Tiga Tahun Presiden
Jakarta, Oktober 2007, http://www.lsi.or.id/riset/218/popularitas-sby-jk-menurun-menembus-batas-psikologis

            Pengelabuan dalam survei politik seperti di atas, acap kali ditemukan. Jadi  hati-hatilah ketika membaca laporan survei politik. (* Edi Sudarjat dan Palguno, peneliti di Indonesian Research and Development Institute)