Tuesday, April 4, 2017

Sembilan Wali di Masa Kini, Resensi buku Seno Gumira Ajidarma, Sembilan Wali & Siti Jenar

https://duniasukab.com/katalog/non-fiksi/sembilan-wali-dan-siti-jenar/

Sembilan Wali di Masa Kini

Seno Gumira Ajidarma, Sembilan Wali & Siti Jenar, Jakarta: PT Intisari Mediatama, 2007. ix + 208 halaman.

Ziarah ke makam para wali atau tokoh keramat menjadi ritual agama yang penting bagi sebagian kaum Muslim di Indonesia. Penulis buku ini menggambarkan, “Sepanjang hari sepanjang musim sepanjang tahun, suatu ziarah terus menerus berlangsung selama 24 jam, membuat tanah Jawa jika dipandang dari satelit memperlihatkan prosesi tanpa henti dari ujung barat ke ujung timur dan kembali lagi. Para peziarah ini, bahkan ada yang berjalan kaki dari Jawa Barat ke Jawa Timur, dan nantinya akan kembali berjalan kali lagi.”

Di kompleks pemakaman para wali itu senantiasa tersedia buku-buku riwayat sang wali, yang dijual bersama kembang, minyak wangi, menyan, tasbih, dan kitab doa Majmu Syarif. Namun buku riwayat sang wali itu isinya adalah khayal campur mitos belaka, wajahnya tak sedap dipandang, tata letaknya amburadul, dan pencetakannya menyedihkan.

Dengan hadirnya buku ini, para penggemar peziarah boleh tersenyum lebar. Kini tersedia buku tentang kehidupan para wali yang informatif, dengan isi yang jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan kebenaran –atau kebingungan– historisnya, memiliki tata letak yang sedap dipandang, dan dihiasi 137 foto yang menawan. Yang tak kalah penting, penulisnya adalah Seno Gumira Ajidarma, seorang penulis mumpuni yang ditimbuni penghargaan di bidang sastra, yang kemudian mencapai tingkat pendidikan tertinggi di dunia akademis: doktor.

Namun Seno menyatakan buku ini bukan kajian ilmiah, melainkan himpunan seri “artikel ringan” dari majalah Intisari. Berdasarkan pengalamannya ketika menyusun buku ini, Seno sampai pada kesimpulan bahwa bukan keberadaan historis para wali yang penting, melainkan keberadaan eksistensialnya. Karena itu tulisan dalam buku ini bersifat historik (historic), yakni mencari makna dari penafsiran subjektif yang berlangsung di sini dan sekarang dari suatu peristiwa sejarah; bukan melulu historis (historical), yakni usaha mencapai pengetahuan objektif pada masa lalu (hlm. viii). 

Tentu saja ini pilihan yang tepat, lantaran kebenaran historis –misalnya saja nama tulen seluruh wali– tidak dapat dipastikan. Bagi mereka yang menekuni ilmu sejarah, kesimpangsiuran historis ini bukan barang baru, tetapi di mata orang awam, kesimpangsiuran itu bisa jadi mengejutkan.

Mengingat riwayat historis para wali itu membuat pening kepala, Seno senantiasa menyuguhkan beberapa versi historis tentang mereka, sejauh penelusuran data yang ia dapatkan. 

Seno juga menelusuri aneka versi itu. Umpamanya, ia menelusuri empat lokasi yang disebut makam Sunan Bonang, yakni: (1) di belakang Masjid Agung Tuban; (2) di bukit di pantai Utara Jawa, antara Rembang dan Lasem; (3) di Tambak Keramat, Pulau Bawean; (4) di Singkal di Tepi Sungai Brantas, Kediri.

Paduan unsur historis dan historik mengenai para wali tersebut membuat buku ini nyaman dibaca. Secara historis misalnya, terdapat tiga orang yang disebut sebagai Sunan Kudus dan tidak satupun di antara mereka yang bisa dipastikan sebagai Sunan Kudus sejati. Toh secara historik, sampai hari ini kita temukan ciri khas Kota Kudus yakni banyak orang menjual soto kerbau dan sate kerbau. Inilah peninggalan wejangan Sunan Kudus, yang mewanti-wanti nenek moyang warga Kudus agar jangan menyembelih sapi untuk keperluan pesta. Soalnya, pada zaman itu banyak orang beragama Hindu, yang meyakini bahwa sapi adalah hewan suci. (hlm. 105).

Kiranya inilah buku yang dapat memuaskan dahaga pengetahuan mengenai riwayat para wali dan makamnya. Sedikit catatan yang dapat diberikan adalah, pertama, unsur historik yang dianggap begitu penting oleh penulis buku ini, ternyata mendapat porsi lebih kecil ketimbang unsur historisnya. Ada baiknya buku ini memasukkan penjelasan dari Jamhari mengenai arti penting ziarah –sebagai unsur historik– bagi kaum muslim. (Jamhari, “The Meaning Interpreted: The Concept of Barakah in Ziarah”, Studia Islamika, 8: 87-128, 2001).

Kedua, buku ini memperlakukan sumber sejarah tanpa mempertimbangkan otoritas penulisnya. Karya maha pakar sejarawan seperti de Graf dan Pigeaud, diperlakukan sejajar dengan dengan karya spekulatif Sumanto Al Qurtuby.

Ketiga, ada sumber yang dikutip dalam buku, tapi tidak tercantum dalam bibliografi, yakni Umar Hasyim, Sunan Muria, antara Fakta dan Legenda, 1993 (hlm 163).

Toh sebagai sumbangan pengetahuan dan bahan perbincangan yang saling mencerdaskan, demikian harapan Seno atas karyanya ini, tentu saja buku ini berhasil melampauinya.***

(Edi Sudarjat)





Monday, March 14, 2016

TENTARA INDIA INGGRIS MEMIHAK DAN MENYEBERANG KE RI


TENTARA INDIA INGGRIS MEMIHAK DAN MENYEBERANG KE RI 

Di antara tentara Inggris yang bertugas ke Indonesia, terdapat Brigade India ke-36. Mereka adalah orang India dari Rawalpindi (kemudian wilayah ini menjadi bagian negara Pakistan) yang berperang untuk Kerajaan Inggris. Rawalpindi diduduki Inggris sejak tahun 1849 dan Inggris membangun wilayah ini sebagai markas tentara mereka. Orang India dapat bergabung sebagai anggota pasukan Inggris. Kepala Staf Brigade India yang ditempatkan di Bogor ialah Mayor Sjahwar Khan. 

Tentara India, lebih-lebih yang beragama Islam, terus-terang menunjukkan simpatinya terhadap bangsa Indonesia. Dengan terang-terangan mereka memperlihatkan kebenciannya kepada Belanda. Soalnya, orang India yang tinggal di Afrika Selatan, bertahun-tahun lamanya dihina dan ditindas oleh orang-orang putih keturunan Belanda di sana. 

Pasukan-pasukan India seringkali mengarahkan tembakan ke atas, tidak mau menembak pejuang RI. Tak jarang mereka memberikan senjata-senjata, sekalipun sedikit jumlahnya. Sebagian dari mereka ada yang melarikan diri dari kesatuannya, untuk bergabung dengan pejuang kita. Penyebrangan mereka diketahui ke pihak RI umumnya direstui komandannya, kendati tidak terang-terangan. Beberapa yang “hijrah” itu ada yang bergabung dengan Batalyon O Tirtayasa Siliwangi, seperti Miahan Khan dan Abdul Ghofur. 

Panglima Siliwangi A.H. Nasution menyaksikan langsung pemihakan tentara India tersebut. Ia menuturkan, pada Oktober 1945, ia melihat satu kelompok pasukan kita bersenjata beberapa pucuk bedil menghadang konvoi Inggris yang dikawal prajurit-prajurit India. Mereka membangun rintangan dan menembaki musuh. Lantaran mereka belum terlatih bertempur, tanpa diketahui, posisi mereka telah dikepung pasukan India.

Namun, perwira India itu tidak menembak, malah berpidato pendek, seperti kultum (kuliah tujuh menit di pengajian) dan membubarkan anak-anak muda kita. Si perwira itu berpesan agar jangan melawan prajurit-prajurit India, karena mereka bersimpati kepada Republik. Tak lupa pula perwira itu menganjurkan supaya anak-anak berlatih dahulu sebelum bertempur sungguh-sungguh. 

Seorang tentara India Muslim bahkan pernah berpidato di depan corong radio Bogor: 
“Saya sudah 5 tahun masuk tentara Inggris. Inggris berkata, bahwa kita harus berperang membasmi fasis Italia, Jerman, dan Jepang, tetapi terbukti kita disuruh membunuh saudaraku-saudaraku sendiri bangsa Indonesia yang beragama Islam. 

Kalau bangsa Indonesia kita bunuh, matinya syahid, tetapi kamu hai saudara-saudaraku prajurit India yang kucintai, kalau kamu mati, apakah arti matimu itu? 

Saya sekarang sudah di tengah-tengah bangsa Indonesia yang baik budi. Saudara-saudaraku, tinggalkanlah tangsi dan bergabunglah dengan saudara-saudaramu bangsa Indonesia. Kamu akan diterima dengan baik, diberi pakaian, makanan dipelihara dengan sebaik-baiknya, sebelum kamu dapat jalan pulang ke India”.
*** 
Sumber: A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid II, hlm. 31 dan 322; Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi (1945-1950), Sholeh Iskandar & Batalyon O, Tirtayasa, Siliwangi.

Monday, March 7, 2016

Jenderal Urip inspeksi "pagar bambu"



Letjen Oerip SOEmohardjo:
Memeriksa “Pagar Bambu”

Pada awal April 1946, Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara (MBT) Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo menginspeksi batalyon-batalyon pasukan TRI yang hanya bersenjata bambu runcing di Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, didampingi Panglima Divisi III Priangan Kolonel Abdul Haris Nasution.
Ketika Jenderal Oerip menginspeksi pasukan, maka pasukan itu meneriakkan, “hormat senjata” secara militer dengan bambu runcing. Jenderal Oerip adalah tentara profesional Hindia Belanda berpangkat Mayor dan merupakan salah seorang Indo

nesia yang paling tinggi pangkatnya dalam KNIL. Ia tahu benar bahwa pasukan bermodal bambu runcing akan menjadi mangsa senjata api musuh yang modern dan lengkap, tetapi ia mengagumi semangat juang pasukannya. Ia menyambut “hormat senjata” itu dengan khidmat, lalu bergurau sambil berbisik kepada Nasution, “Nas, kamu suruh saya memeriksa pagar bambu.”

Sumber:
A.H. Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas, Jilid 1, hlm. 217.
Edi Sudarjat, BOGOR MASA REVOLUSI 1945-1950, Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi (Jakarta, Komunitas Bambu, 2015), hlm, 19.


Saturday, November 21, 2015

Republika, Resensi Bogor Masa Revolusi (1945-1950), Sholeh Iskandar dan Batalyon O, Siliwangi



Rubrik        :   Resensi Buku
Data buku   :   Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi 1945-1950, Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi, Depok: Komunitas Bambu, 2015. (xxiv + 182 hlm; 14 x 21 cm)
Judul          :   Bogor Masa Revolusi (1945-1950): Buku Sejarah yang Menggugah dan Menyenangkan


Tidak banyak buku sejarah seperti ini: penting, menarik, menyenangkan, sekaligus ilmiah.  Penting karena buku ini mengisahkan perjuangan rakyat Bogor di masa revolusi (1945-1950): sebuah topik langka. Sejauh ini hanya ada dua buku dengan topik sejenis, tetapi tidak disajikan untuk umum, melainkan untuk memenuhi keperluan dinas pemerintahan di Kabupaten Bogor.

Menarik karena dihiasi foto-foto langka yang ekslusif dan menampilkan cukup banyak riwayat tokoh lokal di Bogor. Selama ini para tokoh itu hanya diketahui masyarakat sebagai nama jalan, seperti Jl. KH Sholeh Iskandar, Jl. KH Abdullah bin Nuh, Jl. Kapten H Dasuki Bakri, dan Jl. H. Ace Tabrani.

Khusus KH Sholeh Iskandar, sesungguhnya ia bukan tokoh lokal, melainkan nasional, dengan pencapaian internasional. Tak heran bila sejak tahun 1995 ia diusulkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sebagai pahlawan nasional, bersama M. Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, KH Noer Alie dan Kasman Singodimedjo. Gelar pahlawan nasional itu telah dianugerahkan pemerintah kepada KH Noer Alie pada 2006, M. Natsir pada 2008, dan Sjafruddin Prawiranegara pada 2011. KH Sholeh Iskandar dan Kasman Singodimedjo belum memperoleh anugerah tersebut, kendati bagi umat Islam, keduanya sejak lama dipandang sebagai pahlawan.

Lebih jauh, buku ini disebut menyenangkan, karena disajikan dengan bahasa yang enak dibaca—tidak bikin kepala kita puyeng—dan menampilkan sisipan kisah-kisah yang manusiawi dalam perjuangan. Misalnya: 
(1) sejumlah tentara India-Inggris Muslim yang bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI); 
(2) Mayor A.E. Kawilarang yang naik pangkat hanya dalam waktu 10 menit. Belakangan tahun kemudian Kawilarang menjadi pendiri pasukan elite Indonesia yang kini dinamai Kopassus, dan; 
(3) komentar dari Komandan Markas Besar Tentara Letjen. Urip Sumoharjo ketika menginspeksi satu batalyon pasukan di Sumedang yang semuanya hanya bersenjatakan bambu runcing; sehingga ia berbisik kepada Panglima Divisi Siliwangi A.H. Nasution, “Nas..., kamu suruh saya memeriksa pagar bambu?”   

Di samping itu, kadar ilmiah buku ini tampak dari ketaatan penulisnya mematuhi metode penulisan sejarah, seraya menampilkan arsip-arsip dari Indonesia dan Belanda yang tidak mudah diperoleh. 
*  *  *
Wajarlah bila acungan jempol terhadap penulis dan buku ini datang dari sejarawan muda JJ Rijal.  Melalui facebook-nya, Rijal menulis, “[Edi Sudarjat] senior saya yang dulu mahasiswa sejarah di FSUI (kini FIB UI) dan terutama cemerlang dalam sejarah pergerakan nasional sampai revolusi Indonesia. Ia senior dari kelompok Islam yang kalau menulis mengingatkan saya pada almarhum Deliar Noer. Sangat berwibawa karena kekuatan analisis dan datanya, tetapi menarik juga karena Kang Edi, begitu saya memanggilnya, memiliki gaya narasi sastera.

Bukan saja berkisah, tetapi juga menunjukkan ekspresi total untuk memasuki dan memahami alam pikiran zaman bersiap serta perasaan tokoh-tokohnya yang elit maupun alit, sebut saja kisah laskar rakyat. Seperti biasa kekuatannya dalam data pustaka dan arsip diperkaya oleh wawancara yang luas yang menjadi basis sebuah sejarah lisan sebagai sumber yang memungkinkan suara dan kisah yang tidak tercatat bahkan dihapuskan, dapat tampil kembali.

Alhasil buku ini bukan saja sapuan-sapuan besar, tetapi juga petit histoire atau sejarah kecil berkelindan bersuara, bercerita sejarah. Apalagi dilengkapinya pula dengan sejumlah foto-foto dari arsip koran, majalah sezaman, dan teristimewa foto koleksi pribadi orang-orang yang terlibat revolusi Bogor itu. Sungguh buku kecil yang menggugah dan menggembirakan...”
* * *
Buku ini terdiri dari dua bab, pertama, Sekilas tentang Berdirinya TNI & Batalyon O Tirtayasa Siliwangi, dan; kedua, Perjuangan Rakyat Bogor di Masa Revolusi.

Bab pertama mengantarkan pembaca di zaman sekarang memahami zaman revolusi, berikut dinamika yang terjadi waktu itu. Dengan demikian, pembaca akan memahami bahwa perjuangan di masa itu dilakukan oleh segenap rakyat, termasuk para pejuang perempuan, bukan melulu oleh tentara dan elit politik.

Bab kedua memaparkan perjalanan revolusi di Bogor, berikut puluhan pimpinan pejuang yang terlibat di dalamnya. Tidak banyak yang tahu bahwa pernah terjadi kudeta di Bogor yang dilancarkan oleh Ki Nariya, namun tidak berlangsung lama karena berhasil ditumpas oleh pasukan gabungan TNI dan laskar.

Akhirnya, sekilas paparan tentang isi buku ini semoga dapat menggugah Anda untuk menelusuri baris demi baris fakta sejarah, berikut foto-fotonya yang memikat yang dituangkan dalam buku tersebut.***

Friday, August 7, 2015

Paparan Bedah Buku Citeureup






















Bedah Buku: Citeureup Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan




Peringati HUT, Indocement Gelar Bedah Buku
http://koranbogor.com/peringati-hut-indocement-gelar-bedah-buku/

KORANBOGOR.com, BOGOR – Kepedulian PT. Indocement Tunggal Prakasa (ITP) Citeureup Kabupaten Bogor melalui dana Corporate Sosial Responsibility Departemen yang digulirkan melalui 5 Pilarpengembangan masyarakat yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, social budaya agama & olahraga serta keamanan patut mendapat acungan jempol.
Menurut Direktur Eksekutif Indocment Kuky Permana, saat ini CSR Indocement sudah berada tahap creating shared value untuk msayarakat di wilayah binaan dan diharapkan dapat terbentuk generasi yang lebih berkualitas dalam mencapai masyarakat mandiri yang berkelanjutan. Hal itu dikatakan Kuky dalam bedah buku Citeureup yang ditulis Anto Dwiastoro di Gedung Serbaguna Indocement, Kamis (6/7).
Acara bedah buku ini menghadirkan sejarawan nasional, Edi Sudrajat, Direktur Research Center for Institutiona Develpopment Unversitas Indonesia , Triarko Nurlambang, MA, Ph.D, dan penulis buku Citeureup Anto Dwiastoro,dengan moderator wartawan senior Kompas, Anton Wisnu Nugroho.
 Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan HUT Indocement yang ke 40 tahun. “Dengan bedah buku ini diharapkan masayarakat memahami kondisi Citeureup bahwa pengembangan masyarakat di wilayah Indocement sudah tidak lagi berada dalam kondisi philantrophy (kedermawanan) tapi sudah menjajaki suatu tahapan menuju masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan,”tegasnya.
Sementara itu Corporate Secretary, Pigo Pramusakti yang membuka acara tersebut mengatakan bahwa Indocment yang didirikan 40 tahun lalu, sudah mengalami 3 dekade, 10 tahun pertama sudah mengubah kebijakan dari impor menjadi ekspor, decade kedua nasionalisasi berupa penyerahan operasional ke para putra bangsa, dekede ke tiga menjadi perusahan multinasional dan memberi kontribusi kepada masyakat (people) dan planet melalui dana CSR.
Kegiatan bedah buku tersebut dihadiri Camat Citeureup, Ketua MUI Citeureup, Ketua KNPI Citeureup serta pemerhati budaya lokal hingga nasional. Yang menarik acara ini diisi oleh Orkes Keroncong Tugu yang merupakan generasi Mayor Yance, sosok yang erat kaitannya dengan isi buku tersebut. Buku ekslusif yang dikarang Anto Dwiastoro dan dibiayai sepenuhnya oleh CSR Indocement ini bekerjasama dengan Yayasan Tapak Citeureup, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Sebelumnya dilakukan peluncuran Buku Citeureup pada Selasa (4/8) di Rumah Pintar Desa Tajur Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor. (dang HP). 

Tuesday, July 7, 2015

KH Sholeh Iskandar: Pejuang Bereputasi Internasional


KH R Abdullah bin Nuh: Sang Ulama Pejuang



KH. RADEN Abdullah bin Nuh:
Sang Ulama, Penyair dan
Pejuang Kemerdekaan RI


“Jika tidak ada kamus Indonesia-Arab-Inggris yang disusun Kiai Abdullah bin Nuh dan Oemar Bakry, rasanya saya tidak akan bisa berbahasa Arab,” ujar Prof. Dr. Machasin, MA pada tahun 2004. “Waktu saya kuliah, belum ada kamus Indonesia-Arab, yang ada kamus Arab-Melayu Mahmud Yunus. Tapi bahasa Melayu kan membingungkan,” sambung Prof. Machasin, yang juga pernah menjabat Direktur Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI.

Demikianlah arti penting kamus yang disusun Abdullah bin Nuh & Oemar Bakry. Kamus ini  pertama kali diterbitkan 1959, tebalnya 330 halaman dan dihiasi gambar ilustrasi 28 halaman. Pada 1990-an, kamus ini masih dicetak ulang.

Siapapun yang menyusun kamus, pastilah ia orang yang tekun dan terpelajar serta mencintai ilmu. Soalnya menyusun kamus tiga bahasa bukan pekerjaan gampang, diperlukan ketekunan, ketelitian, dan ilmu yang luas; lagipula pada dasawarsa 1950-an, honornya tidak seberapa besar. 

Sejak kecil, Abdullah bin Nuh memang dikenal sebagai pecinta ilmu, tekun dan jenius. Dalam usia 13 tahun, ia mampu menggubah syair berbahasa Arab. Rupanya bahasa Arab bukan hal asing bagi dirinya. Di usia balita, ia dibawa keluarganya bermukim di Makkah selama dua tahun. Ia tinggal bersama Nyi Raden Kalifah Respati, nenek dari ayahnya yang kaya raya dari Cianjur dan ingin meninggal di Makkah. Pengalamannya tinggal di sana cukup meninggalkan kesan khusus. Ia seringkali bercerita pada keluarganya tentang pedagang-pedagang makanan pagi di Makkah yang menjajakan barang dagangan sambil berseru El Batato ya Nas. “Kalau di Indonesia, tak ubahnya seperti pedagang-pedagang yang ada di Yogya yang menjajakan dagangannya sambil berseru Gudege nggih den…. Gudege nggih den,tuturnya kepada keluarga.

Abdullah bin Nuh menimba ilmu pertama kali di  pesantren keluarganya, I‘anatut Talibil Muslimin di Cianjur, dilanjutkan ke Madrasah Syamailul Huda, Pekalongan, Jawa Tengah; lalu mengikuti gurunya ke Surabaya, Jawa Timur, untuk mendirikan Hadramaut School (1922-1926). Tidak tangung-tanggung, ia belajar lebih jauh lagi ke Jamiatul Azhar, Kairo, Mesir (1926-1928).

Sepulangnya dari Kairo, ia tingal di Ciwaringin, Bogor untuk mengajar Madrasah Islamiyah, lalu pulang ke Cianjur untuk mengajar di pesantren keluarganya (1930). Tak lama kemudian ia dinikahkan dengan R. Mariyah binti R. Haji Abdullah. Saat itu ia pulang-pergi Cianjur-Bogor untuk mengajar di madrasah dan sekolah menengah umum MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Tentu bukan perkara mudah dapat mengajar di sekolah dengan sistem pendidikan Belanda seperti MULO.

Di masa itu, ia aktif menyebarkan semangat nasionalisme anti penjajahan melalui ceramah dan pengajaran di majelis taklim, pesantren dan di sekolah-sekolah.  Ia bersahabat dengan para ulama di Bogor, Cianjur dan Sukabumi, antara lain dengan KH Ahmad Sanusi dari Cantayan, Sukabumi, yang sangat terkenal waktu itu. KH Ahmad Sanusi sempat dibuang ke Tanah Tinggi, Batavia Centrum selama enam tahun (1928-1934).

Sama halnya dengan Abdullah bin Nuh, KH Sanusi juga seorang yang tekun, jenius, dan pejuang kemerdekaan. KH Ahmad Sanusi menulis 480 (empat ratus delapan puluh!) karya tulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia.  Ia juga mendirikan organisasi agama dan pergerakan nasional Al-Ittihadiyyatul Islamiyyah (1930) yang kemudian berfusi menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI) serta dipilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945.

Pistol dan Tasbih
Dalam perjalanan berikutnya, Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942, lalu Jepang menjalankan kebijakan politik yang berbeda dengan Belanda. Demi meraih dukungan dari bangsa Indonesia, Jepang berjanji akan memberi kemerdekaan. Demi meraih dukungan itu pula, Jepang merekrut banyak orang Indonesia dan tokoh ummat Islam untuk menjalankan pemerintahan dan menempati jabatan tinggi. Jepang kekurangan pegawai untuk mengelola birokrasi, karena kapal mereka yang membawa aparat birokrasi dari negerinya ditenggelamkan pasukan sekutu dengan senjata torpedo.  

KH Hasjim Asj’ari, hadratus syaikh Nahdlatul Ulama misalnya, diangkat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama  (Shumubu) yang kegiatan sehari-hari dilaksanakan putranya KH Wahid Hasjim. Sedangkan KH Ahmad Sanusi diangkat sebagai wakil residen Bogor (Fuku Shucokan), yang membawahi Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi.

Para tokoh Islam ditunjuk mengikuti pelatihan militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor (sekarang menjadi Pusat Pendidikan Zeni). Di antaranya ialah Soedirman, yang kelak menjadi Panglima Besar TNI; Kasman Singodimedjo yang kelak menjadi ketua Mahkamah Agung pertama RI; dan Abdullah bin Nuh, yang ditunjuk sebagai komandan batalyon (Daidanco) untuk wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur, bermarkas di Ujung Genteng-Jampang Kulon, Sukabumi.  

Saat kemerdekaan tiba, Abdullah bin Nuh ditunjuk sebagai Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR)—cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI)--Sukabumi dan ketua Partai Masyumi se-Keresidenan Bogor. Penampilan Abdullah bin Nuh sebagai komandan dituturkan oleh rekan seperjuangannya, KH Dadun Abdul Qohhar. “Mama’ Abdullah bin Nuh sering terlihat naik kuda, dengan pistol di pinggang sambil memegang tasbih di tangan,” kata KH Dadun Abdul Qohhar. Sungguh sebuah kombinasi menarik: pistol dan tasbih. 

Dari komandan tentara, KH Abdullah bin Nuh diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP): lembaga legislatif sebelum ada Dewan Perwakilan Rakyat. Ketika Jakarta diduduki tentara Sekutu, ia ikut hijrah bersama pemerintah RI ke Yogyakarta. Di kota gudeg ini, ia ditunjuk sebagai kepala seksi siaran bahasa Arab di Radio Republik Indonesia (RRI) Yogya, sekaligus koresponden Kantor Berita APB (Arabian Press Board). Melalui siaran berbahasa Arab inilah kemerdekaan Indonesia diketahui dan didukung bangsa-bangsa Arab. Di Yogya, ia ditunjuk sebagai anggota Dewan Guru dan Senat University Islam Indonesia (UII).

Namun Yogyakarta kemudian diduduki Belanda pada Agresi Militer II, Desember 1948.  Bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia menyingkir ke pedalaman dan ikut bergerilya. Di kala tinggal di Argosari, ia dinikahkan dengan Mursyidah binti H. Abdullah Sayuti di Kebarongan, Banyumas, pada 5 juni 1949.

Ilmuwan yang Mumpuni
Usai revolusi, Abdullah bin Nuh tinggal di Jakarta (1950-1970). Dunia pendidikan kembali memanggilnya. Ia mengajar di perguruan tinggi terkemuka, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) pada 1960-1967, tanpa meninggalkan mengajar di sejumlah pengajian serta majelis taklim. Ia juga menjabat kepala seksi bahasa Arab RRI Jakarta (1950-1964) dan menjadi pimpinan majalah Syunul Indonesia edisi bahasa Arab yang diterbitkan Departemen Penerangan. Sebagai ilmuwan, tak lupa pula ia  mendirikan Islamic Research Institute. 

Rekan-rekan dan mantan muridnya di FSUI mengenangnya sebagai dosen yang kaya ilmu, bertutur lemah-lembut dan mampu mengajar dengan terang-benderang, sebagaimana ia menulis dan menerjemahkan berbagai buku. Abdullah bin Nuh menerjemahkan karya Imam Al-Ghazali Pembebas dari Kesesatan (Al-Munqizu min adh-dhalal) setebal 79 halaman pada 1961, dengan menambahkan keterangan sekitar 200 catatan kaki. Keterangan tersebut begitu jelas dan rinci sehingga non-muslim pun dapat mengerti isi buku tersebut. Kendati diterjemahkan lebih dari 50 tahun silam, bahasa yang digunakannya nyaris tak ketinggalan zaman. Para pembaca di masa kini tetap dapat menikmati terjemahan itu.     

Abdullah bin Nuh memang dikenal sebagai ahli dan mencintai tasawuf Al-Ghazali. Tak heran bila ia mendirikan majelis taklim di Kota Paris, Bogor, yang dinamai Al-Ghazali pada 1968. Majelis ini kemudian berkembang menjadi pesantren dan sekolah. Setelah Al-Ghazali berdiri, ia menetap di Bogor sejak 1971 hingga akhir hayatnya tiba pada 26 Oktober 1987.

Namun pemerintah Orde Baru merintangi kegiatan dan pengembangan Pesantren Al-Ghazali karena  KH Abdullah bin Nuh tidak mendukung Golkar dalam seluruh Pemilihan Umum. Bahkan pada Pemilu 1982, ia sempat ditahan pemerintah sekitar dua pekan lamanya. “Saya yang menjemputnya pulang dari Korem di Bogor,” kata H. Ujang Damanhuri, pengurus Partai Persatuan Pembangunan Leuwiliang, Bogor.  

Di Kota Hujan itu, bersama rekan-rekan seperjuangannya sejak zaman revolusi, yakni,  KH Sholeh Iskandar, KH Noer Alie, KH Choer Affandi, KH Abdullah Syafi’i, dkk., ia mendirikan organisasi Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat pada 1972; lalu mendirikan majelis taklim Al-Ihya di Pasir Jaya, Bogor.

Sepanjang hayatnya, KH Abdullah bin Nuh menulis 28 buku dan menerjemahkan 8 buku, yang meliputi bidang bahasa (kamus), sastra, sejarah, tasawuf, dan fikih. Salah satu syairnya, “Persaudaraan Islam”, yang ditulisnya ketika mengajar di Hadramaut School tahun 1925, begitu terkenal hingga “diabadikan” para penggemarnya di dunia maya dan dapat ditemui dengan mudah melalui mesin pencari kata Google. Puisi ini dilukis di salah satu ruangan di Istana Raja Yordania.
Belasan tahun setelah kepergiannya, Pemerintah Kabupaten Cianjur mengusulkan KH Abdullah bin Nuh sebagai pahlawan nasional pada 2010.
***

Sumber:
1.   Abdullah bin Nuh & Oemar Bakry, Kamus Indonesia-Arab-Inggeris (Jakarta: PT Mutiara Sumber Widya, 1991).
2.   A. Dwi Pamudji (et.al), 60 Tahun Universitas Islam Indonesia Berkiprah dalam Pendidikan Nasional (Jakarta: Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia, 2004)             
3.   Ika Nurmaya, K.H.R. Abdullah bin Nuh, Riwayat Hidup dan Beberapa Pemikirannya (Skripsi Jurusan Asia Barat, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1992.
4.   Wawancara dengan K.H. Dadun Abdul Qohhar di Bogor, Maret 2004
5.   Wawancara dengan Prof. Machasin, Oktober 2008 di Jakarta.
6.   Wawancara dengan H. Ujang Damanhuri, di Warung Saptu, Cibungbulang, Bogor,17 Februari 2015

Sunday, July 5, 2015

JJ Rizal tentang Bogor Masa Revolusi



Jj Rizal
 menambahkan 3 foto baru.

Buku baru @komunitasbambu Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi karya senior saya, Edi Sudarjat. Ia dulu seperti saya adalah mahasiswa sejarah di FSUI (kini FIB UI) dan terutama cemerlang dalam sejarah pergerakan nasional sampai revolusi Indonesia. Ia senior dari kelompok Islam yang kalau menulis mengingatkan saya pada alamarhum pak Deliar Noer. Sangat berwibawa karena kekuatan analisis dan datanya, tetapi menarik juga karena kang Edi, begitu saya memanggilnya, memiliki gaya narasi sastera. Sebagai mahasiswa ia termasuk yang banyak mendapat ruang menulis di Koran Republika pada masa-masa emasnya tahun 1990an yang melahirkan serta memanggungkan banyak intelektual Islam Indonesia.
Tahun lalu saya diundang dia untuk mengikuti presentasi risetnya tentang revolusi di Bogor yang di dalamnya memainkan peran penting intelektual tentara religius, Sholeh Iskandar. Seperti biasa selalu senang mendegarnya karena bukan saja berkisah, tetapi juga menunjukkan ekspresi total untuk memasuki dan memahami alam pikiran zaman bersiap serta perasaan tokoh-tokohnya bukan saja yang elit tetapi juga yang alit, sebut saja kisah laskar rakyat. Seperti biasa kekuatannya dalam data pustaka dan arsip diperkaya oleh wawancara yang luas yang menjadi basis sebuah sejarah lisan sebagai sumber yang memungkinkan suara dan kisah yang tidak tercatat bahkan dihapuskan tampil.
Alhasil buku bukan saja sapuan-sapuan besar tetapi juga petit histoire atau sejarah kecil berkelindan bersuara, bercerita sejarah. Apalagi dilengkapinya pula dengan sejumlah foto-foto dari arsip koran, majalah sezaman dan teristimewa foto koleksi pribadi orang-orang yang terlibat revolusi di Bogor itu. Sungguh buku kecil yang menggugah itu menggembirakan sekali bisa saya bantu penerbitannya, buku sejarah yang membacanya berasa mendapat pahala, kalo ga percaya silakan pesan ke pemasaran@komunitasbambu.com